
SURABAYA — Biji ketapang yang sering ditemukan berserakan di tepi jalan dan dianggap sebagai sampah organik ternyata menyimpan potensi yang menarik untuk diteliti. Dua siswi SMP Al Falah Surabaya, Falia Khasnaulaya Rammadha dan Neysa Tania Husamadiha, mengembangkan penelitian untuk mengolah biji ketapang (Terminalia catappa) menjadi minyak nabati alternatif. Penelitian ini berangkat dari keinginan memanfaatkan bahan alam yang selama ini kurang diperhatikan, sekaligus mencari peluang sumber minyak selain kelapa sawit. Karya mereka masuk dalam Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) 2026 pada subbidang Ilmu Pengetahuan Alam (IPA).
Penelitian tersebut dilakukan melalui proses ekstraksi dan destilasi di laboratorium sekolah dengan pendampingan guru pembimbing, Ustazah Saniya dan Ustazah Palupi Indriyati. Biji ketapang dikumpulkan dari petani lokal, kemudian dihaluskan sebelum diproses menggunakan alat ekstraksi Soxhlet dengan bantuan pelarut alkohol. Tahap pemanasan selanjutnya digunakan untuk memisahkan pelarut dari minyak yang diperoleh. Proses ini menunjukkan bahwa penelitian ilmiah tidak selalu harus dimulai dari bahan mahal atau teknologi rumit, tetapi bisa berangkat dari sumber daya yang mudah dijumpai di sekitar masyarakat.
Meski berhasil menghasilkan sampel minyak, penelitian kedua siswi tersebut masih berada pada tahap laboratorium. Jumlah minyak yang dihasilkan masih terbatas dan belum diuji untuk digunakan menggoreng makanan. Karena itu, minyak biji ketapang belum dapat dinyatakan aman sebagai minyak konsumsi atau langsung menggantikan minyak sawit yang beredar di pasaran. Masih diperlukan pengujian lebih lanjut terhadap kualitas, keamanan pangan, titik asap, stabilitas penyimpanan, serta kemungkinan produksinya dalam skala lebih besar. Pihak sekolah berharap penelitian tersebut dapat terus dikembangkan agar potensi biji ketapang bisa dimanfaatkan secara lebih luas.
Karya Falia dan Neysa menjadi contoh bahwa rasa ingin tahu dan kepedulian terhadap lingkungan dapat melahirkan ide penelitian yang bermanfaat. Bahan yang selama ini kurang dilirik ternyata bisa menjadi objek eksplorasi ilmiah, asalkan diteliti dengan metode yang tepat dan diuji secara bertanggung jawab. Ke depan, hasil penelitian ini masih membutuhkan proses panjang sebelum bisa diterapkan secara komersial. Namun, langkah awal tersebut sudah membuka pertanyaan menarik: berapa banyak bahan alam di sekitar kita yang selama ini terbuang, padahal berpotensi dikembangkan melalui penelitian dan inovasi?
Thanks for reading Sering Diinjak dan Dibuang, Biji Ketapang di Surabaya Ternyata Punya Potensi yang Mengejutkan!. Please share...!
0 Komentar untuk "Sering Diinjak dan Dibuang, Biji Ketapang di Surabaya Ternyata Punya Potensi yang Mengejutkan!"