-->

Pondok Pesantren Indonesia

Blog Pondok Pesantren Seluruh Indonesia

Ujian Digital Tanpa Takut Curang! Ruang Siswa vs Extraordinary CBT, Mana Lebih Unggul?

Ujian Digital Tanpa Takut Curang! Ruang Siswa vs Extraordinary CBT, Mana Lebih Unggul?

Ujian Digital Tanpa Takut Curang! Ruang Siswa vs Extraordinary CBT, Mana Lebih Unggul?

Digitalisasi pendidikan membuat aplikasi Computer Based Test (CBT) semakin dibutuhkan sekolah. Ruang Siswa dan Extraordinary CBT menjadi dua pilihan yang menarik untuk dibandingkan. Keduanya berkaitan dengan ujian berbasis komputer, tetapi sekolah tetap perlu mempertimbangkan biaya, keamanan, kemudahan penggunaan, dan pengelolaan hasil ujian.

Extraordinary CBT menawarkan fitur yang terdokumentasi, seperti berbagai tipe soal, impor soal dari Google Docs atau Word, pemantauan peserta, deteksi perpindahan tab, penilaian otomatis, serta ekspor nilai ke Excel. Aplikasi ini juga mendukung jaringan lokal (LAN), VPS, dan Docker. Versi instalasi mandiri tersedia gratis untuk penggunaan nonkomersial sekolah.

  • Exam browser dan pencegahan kecurangan

  • Penilaian dan laporan hasil

  • Instalasi fleksibel

  • AI Generate Soal

Sementara itu, Ruang Siswa menjadi alternatif menarik bagi sekolah yang mencari aplikasi CBT gratis dengan fokus pada keamanan ujian dan pencegahan kecurangan. Beberapa aspek penting yang perlu diperhatikan meliputi pembatasan menyontek, pengelolaan soal, pengaturan waktu ujian, penilaian otomatis, dan rekap nilai. Ketersediaan fitur-fitur yang ada yaitu :

  • Ujian berbasis komputer (CBT)

  • Keamanan ujian

  • Pembatasan menyontek

  • Pengelolaan soal

  • Pengaturan waktu ujian

  • Penilaian otomatis

  • Rekap hasil ujian

  • Akses gratis

Dari perbandingan tersebut, Ruang Siswa menjadi pilihan menarik bagi sekolah yang membutuhkan aplikasi CBT gratis dengan fokus pada keamanan ujian dan pencegahan kecurangan. Dengan mempertimbangkan kebutuhan sekolah akan ujian digital yang praktis, efisien, dan terjangkau, Ruang Siswa layak dipilih sebagai alternatif untuk mendukung pelaksanaan evaluasi siswa. Kehadiran aplikasi CBT seperti Ruang Siswa diharapkan dapat membantu menciptakan ujian yang lebih tertib dan adil, sekaligus mendukung transformasi digital di dunia pendidikan.

Gunung Ciremai Terbakar, Rp250 Ribu Jadi Umpan: Hutan Kritis, Semua Baru Sibuk?

Gunung Ciremai Terbakar, Rp250 Ribu Jadi Umpan: Hutan Kritis, Semua Baru Sibuk?

Gunung Ciremai Terbakar, Rp250 Ribu Jadi Umpan: Hutan Kritis, Semua Baru Sibuk?

KUNINGAN, JAWA BARAT — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali melanda kawasan Gunung Ciremai, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Api terdeteksi pada Rabu malam, 21 Oktober 2026, sekitar pukul 20.44 WIB, di kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC). Hingga Kamis pagi, kobaran api masih belum berhasil dipadamkan sepenuhnya. Angin kencang, minimnya sumber air, serta medan yang sulit dijangkau membuat upaya pemadaman semakin berat.

Di tengah kondisi tersebut, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyiapkan upah Rp250 ribu per orang untuk warga yang membantu memadamkan api selama satu hari kerja. Ia juga menjanjikan bonus apabila kebakaran dapat segera diatasi. Warga dari Desa Seda, Desa Cibuntu, dan wilayah Kecamatan Pasawahan diminta ikut membantu petugas. Kebijakan ini diharapkan mempercepat pemadaman, tetapi besaran bonus dan mekanisme pemberiannya belum dijelaskan secara terperinci.

Namun, ada persoalan yang jauh lebih besar daripada sekadar nominal upah. Ketika hutan terbakar, petugas dan warga harus berjibaku menghadapi medan terjal dengan peralatan serta sumber air yang terbatas. Relawan bahkan dilaporkan menggunakan cara manual, seperti ranting untuk memukul api dan membuat sekat bakar agar kobaran tidak semakin meluas. Situasi ini memunculkan pertanyaan serius: apakah kesiapan menghadapi kebakaran hutan sudah sebanding dengan pentingnya kawasan konservasi tersebut? Mengandalkan semangat warga saja jelas bukan solusi jangka panjang.

Kini, yang dibutuhkan bukan sekadar janji bonus atau pengerahan tenaga tambahan, melainkan penanganan yang terukur, fasilitas pemadaman yang memadai, serta penyelidikan untuk memastikan penyebab kebakaran. Hingga laporan terakhir yang tersedia pada 22 Oktober 2026, penyebab pasti kebakaran belum diketahui. Jangan sampai setelah api padam, persoalan kesiapsiagaan ikut dilupakan, lalu semua kembali sibuk ketika hutan kembali terbakar. Sebab, Gunung Ciremai bukan sekadar hamparan pepohonan, melainkan kawasan penting bagi ekosistem dan kehidupan masyarakat di sekitarnya.

Rp800 Juta Diserahkan ke KPK, Hercules Buka-bukaan soal Uang dari Summarecon

Rp800 Juta Diserahkan ke KPK, Hercules Buka-bukaan soal Uang dari Summarecon

Rp800 Juta Diserahkan ke KPK, Hercules Buka-bukaan soal Uang dari Summarecon

JAKARTA — Pengembalian uang Rp800 juta oleh Rosario de Marshall alias Hercules kepada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menjadi sorotan dalam penyidikan dugaan korupsi pengurusan hak guna bangunan (HGB) lahan PT Summarecon Agung Tbk di Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Uang tersebut diserahkan melalui kuasa hukum Hercules pada 15 Oktober 2026 dan kemudian disita penyidik sebagai barang bukti. KPK menduga uang itu berkaitan dengan pengelolaan lahan serta pengurusan pembukaan blokir dan HGB di wilayah Bogor.

Hercules kemudian menjelaskan bahwa uang tersebut awalnya diberikan oleh pengacara yang berkaitan dengan Summarecon untuk membantu memediasi sengketa lahan seluas sekitar 65 hektare antara perusahaan dan pihak ahli waris. Ia menyebut uang itu sebagai uang persahabatan atau jasa terkait upaya mediasi. Namun, Hercules mengaku mempertanyakan klaim bahwa sengketa tersebut telah mencapai kesepakatan damai. Menurut keterangannya, persoalan itulah yang mendorongnya menyerahkan uang tersebut kepada KPK agar asal-usul dan tujuan pemberiannya dapat diperiksa. Sumber: iNews

Di sisi lain, KPK masih mendalami hubungan uang Rp800 juta tersebut dengan perkara dugaan suap di lingkungan Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN). Penyidik perlu menelusuri siapa pemberi dan penerima uang, apa tujuan sebenarnya, serta apakah transaksi itu berkaitan dengan dugaan penyuapan dalam pengurusan sertifikat tanah. Dalam perkara ini, KPK telah menetapkan delapan tersangka. Meski demikian, keterkaitan uang yang diserahkan Hercules dengan tindak pidana masih harus dibuktikan melalui penyidikan dan alat bukti yang sah. Sumber: detikNews

Penyerahan uang tersebut kini membuka pertanyaan yang lebih besar: apakah uang itu benar merupakan imbalan mediasi atau memiliki kaitan dengan dugaan korupsi pengurusan lahan? Jawabannya tidak cukup hanya berdasarkan pengakuan salah satu pihak. KPK perlu menguji keterangan para pihak, dokumen, dan aliran dana agar duduk perkara menjadi jelas. Pada akhirnya, yang dibutuhkan publik bukan sekadar uang ratusan juta rupiah yang berpindah tangan, melainkan kepastian hukum dan transparansi dalam pengelolaan pertanahan.

Desa Tak Harus Ribet: Cara Baru Mengurus Administrasi Tanpa Menumpuk Berkas

Desa Tak Harus Ribet: Cara Baru Mengurus Administrasi Tanpa Menumpuk Berkas

Desa Tak Harus Ribet: Cara Baru Mengurus Administrasi Tanpa Menumpuk Berkas

Mengurus administrasi desa sering kali identik dengan tumpukan dokumen, pencatatan berulang, dan proses pelayanan yang membutuhkan ketelitian ekstra. Di tengah perkembangan teknologi, pemerintah desa dituntut untuk beradaptasi agar pelayanan kepada masyarakat semakin praktis dan tertata. Digitalisasi bukan sekadar mengikuti tren, melainkan langkah untuk mengurangi pekerjaan administratif yang menyita waktu, sehingga aparatur desa dapat lebih fokus pada kebutuhan warga.

Tantangannya bukan hanya soal ketersediaan komputer atau jaringan internet, tetapi juga bagaimana membangun sistem kerja yang mudah digunakan dan sesuai dengan kebutuhan di lapangan. Data yang tersimpan secara teratur dapat membantu aparatur desa mencari informasi dengan lebih efisien, meminimalkan risiko kesalahan pencatatan, serta mendukung proses administrasi yang lebih transparan. Dengan pengelolaan yang tepat, teknologi dapat menjadi alat bantu untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik dari tingkat desa.

Salah satu solusi digital yang dapat dilirik adalah Merpati Si Kades, sebuah aplikasi yang diperkenalkan oleh BWI untuk mendukung digitalisasi administrasi dan pelayanan pemerintahan desa. Kehadiran aplikasi ini menjadi alternatif bagi desa yang ingin mulai beralih dari proses manual menuju pengelolaan kerja yang lebih modern. Informasi produk Merpati Si Kades dapat dilihat melalui halaman resmi produk BWI.

Melalui pemanfaatan Merpati Si Kades, digitalisasi desa diharapkan tidak berhenti pada penggunaan aplikasi, tetapi berkembang menjadi kebiasaan kerja yang lebih rapi, efektif, dan mudah dievaluasi. Penerapannya tetap perlu disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing desa, kesiapan aparatur, serta ketersediaan infrastruktur pendukung. Sebab, pelayanan desa yang baik bukan hanya tentang seberapa canggih teknologinya, melainkan seberapa besar teknologi tersebut membantu aparatur bekerja lebih efisien dan memudahkan masyarakat memperoleh pelayanan.

Efisiensi Berlanjut, Publik Menunggu: Anggaran Dipangkas, Apa Dampaknya?

Efisiensi Berlanjut, Publik Menunggu: Anggaran Dipangkas, Apa Dampaknya?

Efisiensi Berlanjut, Publik Menunggu: Anggaran Dipangkas, Apa Dampaknya?

Presiden Prabowo Subianto membuka peluang untuk melanjutkan penghematan anggaran secara besar-besaran jika diperlukan. Pernyataan tersebut disampaikan dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Kepresidenan, Jakarta, pada Rabu, 21 Oktober 2026. Prabowo menegaskan bahwa pemerintah masih memiliki perjalanan panjang dan perlu terus mencari cara agar penggunaan anggaran lebih efisien. Wacana ini kembali menjadi perhatian karena kebijakan penghematan dapat memengaruhi cara pemerintah membiayai berbagai program dan kebutuhan negara.

Sebelumnya, pemerintah telah menargetkan efisiensi anggaran sekitar Rp306,69 triliun melalui Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2025. Menteri Keuangan Suahasil Nazara menegaskan bahwa efisiensi bukan sekadar memangkas belanja, melainkan memastikan anggaran digunakan secara optimal tanpa menghentikan program prioritas. Pemerintah juga memperkirakan belanja APBN pada kuartal IV 2026 mencapai sekitar Rp1.300 triliun. Artinya, penghematan tidak otomatis berarti seluruh belanja pemerintah akan menyusut, karena anggaran tetap dialokasikan untuk kebutuhan pembangunan dan pelayanan masyarakat.

Meski bertujuan menjaga penggunaan uang negara tetap efektif, kebijakan efisiensi tetap perlu diawasi agar tidak mengurangi kualitas pelayanan publik. Masyarakat tentu berharap penghematan benar-benar menyasar pengeluaran yang kurang mendesak, bukan justru menghambat layanan pendidikan, kesehatan, infrastruktur, atau bantuan sosial. Pada akhirnya, ukuran keberhasilan efisiensi bukan hanya seberapa besar anggaran berhasil dihemat, tetapi juga seberapa nyata manfaatnya dirasakan masyarakat. Jika pengeluaran dipangkas tanpa hasil yang jelas, publik tentu berhak bertanya: anggaran boleh dihemat, tetapi jangan sampai pelayanan kepada rakyat ikut dikorbankan.

Hutan Jadi Abu, Rakyat Hirup Asap: 11 Korporasi Tersangka, Jangan Sampai Hukum Cuma Galak di Awal!

Hutan Jadi Abu, Rakyat Hirup Asap: 11 Korporasi Tersangka, Jangan Sampai Hukum Cuma Galak di Awal!

Hutan Jadi Abu, Rakyat Hirup Asap: 11 Korporasi Tersangka, Jangan Sampai Hukum Cuma Galak di Awal!

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menjadi sorotan setelah Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto mengungkap bahwa Polri telah menetapkan 11 korporasi sebagai tersangka terkait kasus karhutla. Pernyataan tersebut disampaikan pada Rabu, 21 Oktober 2026, di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta. Dari jumlah tersebut, tiga korporasi merupakan perusahaan berstatus penanaman modal asing (PMA) yang terkait dengan wilayah Kalimantan. Namun, identitas perusahaan belum diumumkan secara terperinci kepada publik. (Sumber: detikNews)

Angka 11 korporasi ini bukan sekadar angka untuk memenuhi berita utama. Di balik persoalan karhutla, ada hutan yang rusak, ekosistem yang terancam, serta masyarakat yang berpotensi menanggung dampak asap dan gangguan kesehatan. Ketika kebakaran terjadi berulang kali, publik tentu berhak mempertanyakan seberapa serius upaya pencegahan dilakukan. Jangan sampai kerusakan lingkungan menjadi persoalan tahunan, sementara warga harus terus berhadapan dengan risiko yang sebenarnya bisa ditekan melalui pengawasan dan penanganan yang tepat.

Kini, tantangannya bukan hanya menetapkan tersangka, melainkan memastikan proses hukum berjalan transparan dan tidak berhenti di tengah jalan. Publik masih menunggu identitas korporasi yang diumumkan secara resmi, penjelasan mengenai dugaan keterlibatan masing-masing pihak, serta perkembangan penyidikannya. Status tersangka bukan berarti perusahaan telah terbukti bersalah, tetapi proses hukum harus mampu mengungkap fakta dan menentukan pertanggungjawaban sesuai bukti. Jika memang ditemukan pelanggaran, penanganannya harus tegas tanpa memandang besar kecilnya perusahaan maupun asal modalnya.

Hutan bukan sekadar hamparan lahan yang bisa dihitung berdasarkan nilai ekonominya. Hutan adalah penyangga kehidupan, tempat berbagai spesies bergantung, sekaligus bagian penting dari lingkungan yang dinikmati masyarakat. Karena itu, penindakan terhadap dugaan karhutla tidak boleh berhenti sebagai kabar yang ramai selama beberapa hari, lalu tenggelam tanpa kejelasan. Jangan sampai hukum terdengar garang saat mengumumkan tersangka, tetapi kehilangan taring ketika publik menunggu hasil akhirnya. Sebab, yang dibutuhkan bukan sekadar angka tersangka, melainkan kepastian hukum, pencegahan yang nyata, dan perlindungan lingkungan yang benar-benar terasa.

Belajar Akuntansi Tak Harus Bikin Pusing, ACC Learning Hadir dengan Cara yang Lebih Praktis

Belajar Akuntansi Tak Harus Bikin Pusing, ACC Learning Hadir dengan Cara yang Lebih Praktis

Belajar Akuntansi Tak Harus Bikin Pusing, ACC Learning Hadir dengan Cara yang Lebih Praktis

Belajar akuntansi sering dianggap rumit karena identik dengan angka, jurnal, laporan keuangan, hingga perhitungan yang membutuhkan ketelitian tinggi. Tak sedikit mahasiswa yang harus mengulang materi agar benar-benar memahami konsep dasar akuntansi. Padahal, dengan metode belajar yang tepat dan akses materi yang mudah, memahami dunia akuntansi bisa menjadi pengalaman yang lebih menyenangkan dan tidak selalu terasa membebani.

Di tengah perkembangan teknologi pendidikan, metode belajar digital menjadi salah satu alternatif untuk mendukung proses pembelajaran. Mahasiswa kini dapat memanfaatkan platform digital untuk mengakses materi, mengulang pembahasan, serta belajar sesuai kebutuhan. Cara ini memberikan fleksibilitas bagi pelajar untuk membangun pemahaman secara bertahap, tanpa harus selalu bergantung pada pembelajaran di ruang kelas.

Salah satu platform yang dapat menjadi pilihan untuk dieksplorasi adalah ACC Learning, sebuah aplikasi pembelajaran yang berfokus pada bidang akuntansi. Kehadiran ACC Learning dapat menjadi alternatif bagi mahasiswa maupun pelajar yang ingin mendalami materi akuntansi melalui pendekatan digital. Dengan memanfaatkan platform pembelajaran, pengguna dapat menyesuaikan kegiatan belajar dengan waktu dan kebutuhan mereka.

Melalui ACC Learning, proses belajar akuntansi diharapkan terasa lebih praktis dan mudah dijangkau. Platform ini dapat dimanfaatkan sebagai pendamping belajar untuk memperkuat pemahaman materi, terutama ketika pengguna ingin kembali mempelajari konsep yang belum dikuasai. Untuk mengetahui fitur, materi, dan layanan yang tersedia secara lebih lengkap, calon pengguna dapat mengunjungi platform resmi ACC Learning. Pada akhirnya, teknologi bukan pengganti ketekunan belajar, tetapi dapat menjadi alat bantu agar memahami akuntansi terasa lebih terarah.

Sampah Menumpuk, Api Menyusul! TPA Supiturang Terbakar, Masalah Lama Belum Beres

Sampah Menumpuk, Api Menyusul! TPA Supiturang Terbakar, Masalah Lama Belum Beres

Sampah Menumpuk, Api Menyusul! TPA Supiturang Terbakar, Masalah Lama Belum Beres

MALANG — Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Supiturang di Kecamatan Sukun, Kota Malang, kembali menjadi sorotan setelah kebakaran melanda kawasan tersebut pada Rabu (21/10/2026). Api membakar area tumpukan sampah hingga diperkirakan mencapai satu hektare. Hingga Kamis (22/10/2026), petugas masih berupaya memadamkan puluhan titik api yang tersisa. Kejadian ini kembali mengingatkan bahwa sampah bukan sekadar persoalan pemandangan kumuh, tetapi juga menyangkut risiko kebakaran dan keselamatan lingkungan.

Kebakaran diduga bermula dari aktivitas pembakaran sampah di sisi selatan, di luar area TPA. Kepala Satpol PP Kota Malang, Prayitno, menjelaskan bahwa percikan bara api kemungkinan terbawa angin hingga menyambar tumpukan sampah. Namun, penyebab tersebut masih berupa dugaan awal, bukan kesimpulan final. Kondisi angin kencang, rumput kering pada musim kemarau, serta kandungan gas metana di tumpukan sampah turut memperbesar risiko dan menyulitkan pemadaman.

Penanganan kebakaran melibatkan petugas gabungan dari Damkar Kota Malang, Kabupaten Malang, dan unsur terkait. Laporan terbaru menyebut masih terdapat sekitar 50–70 titik api kecil pada Rabu malam, sedangkan laporan Kamis pagi menyebut petugas berfokus memadamkan sekitar 70 titik api tersisa. Tantangannya, api yang tampak padam di permukaan belum tentu benar-benar mati karena bara dapat bertahan di bagian dalam tumpukan sampah. Petugas pun perlu melakukan pembasahan berulang, penyekatan, serta mempertimbangkan metode seperti penyuntikan air ke dalam timbunan atau pembongkaran menggunakan ekskavator.

Kebakaran ini semestinya menjadi bahan evaluasi serius, bukan sekadar menunggu api padam lalu melupakan persoalan sampai kejadian serupa muncul lagi. Pengawasan terhadap pembakaran sampah, kesiapan sarana pemadam, dan pengelolaan timbunan perlu diperkuat agar risiko tidak terus berulang. Sebab, kalau sampah sudah menumpuk dan api ikut menyala, yang dipertaruhkan bukan cuma tumpukan limbah, melainkan juga kualitas udara, kesehatan warga, dan keselamatan petugas. Masalah sampah tidak akan selesai hanya dengan memadamkan api; pencegahan dan pengelolaan yang konsisten juga harus berjalan.

Promosi Makin Praktis! WA Blasting Bantu Bisnis Menjangkau Pelanggan Lebih Cepat

Promosi Makin Praktis! WA Blasting Bantu Bisnis Menjangkau Pelanggan Lebih Cepat

Promosi Makin Praktis! WA Blasting Bantu Bisnis Menjangkau Pelanggan Lebih Cepat

Di tengah persaingan bisnis digital yang semakin ketat, pelaku usaha dituntut untuk menemukan cara promosi yang efektif dan mampu menjangkau pelanggan secara lebih luas. Mengandalkan promosi secara manual terkadang membutuhkan banyak waktu dan tenaga, terutama ketika bisnis harus menyampaikan informasi produk, penawaran khusus, atau program terbaru kepada banyak pelanggan sekaligus.

WhatsApp menjadi salah satu saluran komunikasi yang banyak dimanfaatkan untuk mendekatkan bisnis dengan pelanggan. Melalui pesan yang dikirim secara langsung, pelaku usaha dapat menyampaikan informasi dengan lebih praktis dan membangun komunikasi yang terasa personal. Namun, ketika jumlah pelanggan terus bertambah, pengelolaan pesan promosi membutuhkan solusi yang lebih terstruktur agar komunikasi bisnis tetap efisien.

Salah satu solusi yang bisa dipertimbangkan adalah WA Blasting dari Bengkel Web Indonesia (BWI). Layanan ini dirancang untuk membantu bisnis mengirimkan pesan promosi kepada banyak kontak melalui WhatsApp dengan lebih praktis. Dengan dukungan layanan WA Blasting, pelaku usaha dapat mempermudah penyampaian informasi mengenai produk, promo, maupun pengumuman penting tanpa harus mengirim pesan satu per satu secara manual.

Melalui pemanfaatan WA Blasting, proses promosi bisnis berpotensi menjadi lebih hemat waktu dan terorganisasi. Pelaku usaha dapat memanfaatkannya untuk mendukung komunikasi dengan pelanggan, memperkenalkan penawaran terbaru, serta menjaga hubungan dengan audiens bisnis. Dengan penggunaan yang bertanggung jawab, termasuk mengirim pesan kepada kontak yang telah memberikan persetujuan, WA Blasting dapat menjadi salah satu pilihan untuk mendukung strategi pemasaran digital yang lebih praktis dan terarah.

Jari Menyilang, Mahasiswa Meradang! Gubernur Kaltim Baru Bereaksi Setelah Demo Memanas

Jari Menyilang, Mahasiswa Meradang! Gubernur Kaltim Baru Bereaksi Setelah Demo Memanas

Jari Menyilang, Mahasiswa Meradang! Gubernur Kaltim Baru Bereaksi Setelah Demo Memanas

SAMARINDA — Polemik yang melibatkan Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas’ud dan ajudannya menjadi sorotan setelah video dugaan tindakan kasar terhadap kader Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) beredar di media sosial. Insiden ini memicu kritik publik, terutama soal sikap aparat pengawal pejabat ketika berhadapan dengan mahasiswa yang menyampaikan aspirasi. Persoalannya pun melebar, dari dugaan kontak fisik hingga cara pemerintah daerah merespons kritik.

Peristiwa tersebut terjadi pada Senin (19/10/2026) di kawasan Masjid Nurul Mu’minin, kompleks Kantor Gubernur Kaltim, Samarinda. Saat itu, mahasiswa GMNI tengah menyampaikan protes terkait penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Ketika Rudy melintas menuju masjid, sejumlah mahasiswa mempertanyakan alasan mereka tidak ditemui saat demonstrasi berlangsung. Situasi kemudian memanas setelah seorang ajudan diduga menepis ponsel mahasiswa hingga terjadi kontak fisik.

Sorotan semakin besar setelah Rudy menemui ribuan demonstran pada Rabu (21/10/2026). Di hadapan massa, ia menyatakan setuju untuk mencopot Asky Rizal Toding dari tugasnya sebagai ajudan dan mengembalikannya ke kesatuan asal. Rudy juga terlihat menyilangkan jari di bagian leher ketika menyampaikan sikapnya. Gestur tersebut ikut menjadi bahan pembicaraan, meski makna sebenarnya tidak bisa dipastikan hanya dari bahasa tubuh.

Ajudan yang bersangkutan telah menyampaikan permohonan maaf dan mengakui tindakannya berlebihan serta tidak dapat dibenarkan. Sementara itu, Polda Kaltim menyatakan personel tersebut sedang menjalani pemeriksaan oleh Propam. Janji pencopotan memang menjadi respons atas tuntutan mahasiswa, tetapi publik tetap berhak menunggu kejelasan tindak lanjutnya. Sebab, dalam demokrasi, kritik bukan alasan untuk bersikap kasar, dan jabatan bukan tameng untuk menghindari pertanggungjawaban.

Back To Top